Sunday, May 11, 2014
Dua Sisi Soekarno
Beberapa waktu lalu, di sela-sela obrolan via whatsapp antara saya dan seorang teman laki-laki, terseliplah pembicaraan tentang bagaimana Soekarno membuat cap playboy lekat bagi semua laki-laki berzodiak Gemini. Kala itu saya bilang, Soekarno adalah contoh sosok pria yang selalu butuh perempuan di sekelilingnya. Perempuan, bagi Soekarno, adalah kekuatan dan kelemahan sekaligus. Buat saya, pria dengan beban tanggung jawab yang besar, apalagi seorang pemimpin, sangat wajar membutuhkan dukungan dari perempuan, karena saya percaya perempuan punya "kekuatan" penyeimbang.
Kaitannya dengan buku yang akan saya bahas sekarang adalah, di buku "Soekarno: Kuantar Ke Gerbang" tulisan Ramadhan K.H., yang merupakan kisah istri kedua Soekarno, Inggit Garnasih, tergambar jelas dua sisi kehidupan presiden pertama Indonesia ini. Di depan publik, Soekarno adalah sosok pria dengan karisma luar biasa, karakter kuat, pemikiran tajam, seorang "singa podium" dengan suara lantang yang selalu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya berpidato. Jauh di dalam dirinya, sesungguhnya Soekarno tak berbeda dari pria pada umumnya. Ia pun punya sifat egois dan kekanak-kanakan, apalagi kalau urusannya dengan cinta dan perempuan.
Buku ini sesungguhnya adalah biografi dari Inggit Garnasih, yang kemudian ditulis dalam format novel. Itu sebabnya sejak awal, tepatnya di bagian pengantar, sudah diperingatkan bahwa akan ada dramatisasi di dalamnya. Tapi terlepas dari dramatisasi yang diberikan, fakta-fakta sejarah di dalamnya cukup bisa menambah wawasan sejarah pra proklamasi untuk kita.
Meski demikian, mungkin karena saya perempuan, kisah percintaan Inggit dan Soekarno menjadi topik yang paling saya cari dan tunggu, di setiap babnya. Pasalnya sedari awal saya memboyong buku ini dari rak toko buku ke kasir, itikad saya adalah ingin tahu sisi romantis sang proklamator, yang ternyata tak banyak juga porsinya di buku ini.
Buku ini tidak tipis, walaupun tidak tergolong tebal juga, terdiri dari kurang lebih 400 halaman. Untuk mereka yang tidak suka sejarah, buku ini dijamin membosankan. Banyak nama, tahun, kejadian, yang seringkali membuat saya harus bolak-balik halaman untuk mengaitkan satu dengan lainnya. Tapi berhubung penasaran, ya sudahlah, saya nikmati saja. Lalu terselip dimana kisah romansa Inggit dan Soekarno?
Jawabannya, di awal dan akhir novel. Di awal novel tentunya adalah kisah pertemuan Soekarno, atau pada masa itu ia dipanggil dengan nama kecilnya Koesno, dengan Inggit Garnasih, dan bagaimana cinta mereka bersemi. Di bagian akhir, jika Anda adalah pembaca perempuan, mungkin akan merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan. Menuju bab-bab akhir buku, emosi mulai terbawa. Semakin ke belakang, semakin larut, hingga akhirnya saya sempat membanting buku karena kesal. Apa pasal?
Di bab-bab inilah Soekarno tampak demikian kekanak-kanakan dan egois. Luntur sudah gambaran pria berkarisma, sang "singa podium" yang begitu dipuja. Lagi-lagi, mungkin karena saya perempuan, sehingga lebih mudah berempati dengan perasaan Inggit Garnasih yang diduakan dan disakiti. Kesetiaannya berbalas tuba, akibat usia tua dan ketidakmampuan melahirkan keturunan. Akhir kisah Inggit dan Soekarno, adalah awal kisah Soekarno dengan ibu Fatmawati, istri yang namanya populer sebagai penjahit bendera pertama Indonesia.
Meski kesal dengan sikap Soekarno yang demikian mudah main hati dengan perempuan, saya tetap tak menampik pendapat saya semula. Buat saya, pria dengan kekuasaan selalu butuh perempuan di sekelilingnya, untuk menjaganya tak limbung. Kebutuhan dikelilingi perempuan tak lantas berarti harus jadi playboy, gonta-ganti istri. Merasa lebih nyaman bekerja dengan tim yang didominasi perempuan, atau berpartner dengan kolega perempuan pun adalah wujud kebutuhan akan dukungan perempuan.
Saya bukan penggemar Bung Karno, tapi buat saya presiden pertama Indonesia ini punya banyak sisi yang menarik untuk diketahui. Sebelum membaca buku ini, saya pernah membaca buku "Bung Karno Sang Arsitek" yang berisi perjalanan karya arsitektur Soekarno, dari desain rumah tinggal, hingga aneka landmark ternama. Buku ini kemudian membawa saya menyusuri jalanan kota Bandung, untuk mencari sisa-sisa karyanya. Intinya, sosok seperti Soekarno selalu menarik untuk dibahas dan diceritakan, Anda berpendapat sama? Jika ya, buku ini layak ada di deretan buku, di rak buku Anda.
Labels:
review
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment