Tuesday, May 21, 2013

Nostalgia Bersama Nawilla



Semakin dewasa manusia, semakin segalanya terlihat dan terasa rumit. Nawilla, lewat tutur khas anak-anak yang polos, seperti mengingatkan kita bahwa kita pernah demikian sederhana melihat dunia. Cerita-cerita Nawilla membawa kita ke masa kecil, saya yakin sebagian - jika tidak semua - cerita di dalam buku ini pasti pernah kita alami semasa kanak-kanak dulu. Cerita tentang mata ikan yang rasanya enak, cerita tentang ibu yang selalu bilang, "nanti saja," atau, "besok saja," saat kita meminta dibelikan sesuatu, sebenarnya adalah dusta belaka, dan banyak cerita lainnya, membuat kita benar-benar terbawa nostalgia sesaat.

Back Cover
Ditulis oleh Reda Gaudiamo, yang pernah saya jumpai semasa saya bekerja di salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia, Kompas Gramedia. Saya tidak pernah benar-benar mengenal Mbak Reda, selain hanya berpapasan di lift, saling sapa basa basi, tersenyum, lalu masing-masing berlalu ke kantor masing-masing. Mbak Reda adalah "bos" dari redaksi majalah-majalah wanita, seorang wartawan senior-lah.

Selain nama Mbak Reda, ada nama seorang lain yang familiar dengan saya, Dharmawan Handonowarih. Wartawan senior juga, yang menulis kata pengantar untuk buku besutan Mbak Reda ini. Wartawan senior yang satu ini adalah mantan pemimpin redaksi majalah tempat saya bekerja dulu. Dua nama wartawan senior yang saya tahu reputasinya, ditambah ide cerita yang menarik, rasanya cukup menjadi alasan untuk saya memboyong buku ini dari rak toko buku, ke kasir.


Oh, ada satu lagi, yang tak kalah menjadi daya tarik bagi buku ini, ilustrasinya! Untuk ilustrasi buku ini, Mbak Reda mempercayakannya pada Cecillia Hidayat. Melihat dari cover-nya saja, saya sudah langsung suka dengan gaya ilustrasinya.

Penilaian secara keseluruhan, buku ini sungguh tidak mengecewakan, walaupun untuk buku setebal 111 halaman harga Rp 50.000, relatif mahal.

Singkat cerita, saya jatuh cinta dengan buku ini. Bravo, Mbak Reda! 

Tuesday, May 7, 2013

Menulis dan Membaca

Saya: "Bapak percaya bahwa menulis membutuhkan bakat?"

Rosihan Anwar: "Tidak, menulis itu bisa dilatih. Bakat tentu akan sangat membantu, tapi bakat bukan satu-satunya faktor yang membuat kamu bisa menulis dengan baik. Kamu harus terus berlatih dan berlatih."

Saya: "Untuk bapak sendiri, faktor apa yang paling penting, yang bisa membantu kita menghasilkan tulisan yang bagus?"

Rosihan Anwar: "Membaca. Tidak ada penulis yang bisa menghasilkan karya yang baik, kalau dia tidak suka membaca. Membaca jangan hanya buku berbahasa Indonesia, semakin banyak buku yang bisa kita baca, semakin baik. Belajarlah banyak bahasa, supaya bisa membaca semakin banyak buku. Membaca membantu kamu memperoleh wawasan lebih luas, cara pandang lebih bervariasi, perbendaharaan kata lebih kaya, dan itulah yang akan membuat tulisan kamu lebih bagus."

(Di atas adalah petikan kecil perbincangan saya dengan Alm. Rosihan Anwar di tahun pertama saya kuliah di jurusan Jurnalistik, tahun 2003. Tanpa sadar, kata-kata beliau ini selalu membekas di benak saya.)

Sunday, May 5, 2013

Parade Psikopat

"Eh, Nis, ada penulis Indonesia yang bikin novel psycho thriller, lho. Penasaran, deh. Baca yuk!"

Demikian kata teman saya via whatsapp. Si teman ini memang kerap jadi teman diskusi yang menyenangkan soal buku. Tidak jarang saya menjadikan pendapat-pendapatnya sebagai sumber referensi juga.

Saat mendengar dia penasaran dengan buku besutan penulis lokal yang bergenre psycho thriller, kok, ya saya tidak merasakan hal yang sama. Saya memang selalu skeptis dengan novel-novel karya penulis lokal. Bukan, bukan karena sok, tapi buat saya hanya ada segelintir penulis Indonesia yang karyanya enak dibaca.

Kebanyakan novel karya penulis Indonesia terlalu romansa, terlalu menye-menye, semacam teenlit atau chiclit, bagi sebagian orang mungkin menghibur, tapi buat saya tidak. Saya memang tidak suka novel-novel semacam itu.

Kembali kepada novel psycho thriller, akhirnya saya beli juga. Hitung-hitung untuk bahan diskusi di book club tak resmi saya dan teman saya tadi. Buku itu berjudul Katarsis, ditulis oleh Anastasia Aemilia, terbitan Gramedia.

Setelah membaca beberapa halaman saja, saya akui, penulis buku ini termasuk dalam golongan yang bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca, hanya ada beberapa typo yang menurut saya masih sangat bisa dimaklumi. Diksi dan logika kalimatnya bagus, membuat saya merasa sangat nyaman membacanya.

Bagaimana si penulis membagi per bab-nya juga bagus. Saya lebih suka buku-buku yang tiap babnya tidak terlalu panjang, cukup 2-5 halaman saja, seperti di buku ini. Pembagian bab seperti ini sangat membantu untuk orang-orang yang harus mencuri-curi waktu untuk membaca, sehingga mereka bisa menyelesaikan satu bab sebelum menutup buku dan meneruskan aktivitas mereka.

Dari segi cerita, jujur saya sempat terperangkap di bab-bab awal. Karakter dari si tokoh utama, Tara Johandi, sebagai anak perempuan yang dari masa kanak-kanaknya sudah menyimpan kekejaman dalam dirinya, dibangun dengan sangat baik. Namun, saya merasakan penurunan di pertengahan menuju akhir buku. Psikopat-psikopat lain bermunculan, menjadikan cerita utama buku ini adalah antara satu psikopat ke psikopat lainnya. Terlalu fokus pada kemunculan psikopat-psikopat ini, pada akhirnya saya tidak mendapatkan cerita background yang bisa menjelaskan mengapa para psikopat tadi bisa menjadi psikopat, traumakah, kelainan jiwa sejak lahirkah (kalau memang ada), atau apa?

Anyway, saya tetap suka dengan eksekusi buku ini, terutama teknik penulisannya. Setidaknya, saya menemukan lagi penulis Indonesia yang karyanya patut dibaca. Untuk teman-teman yang suka dengan genre psycho thriller, buku Katarsis ini worth to read, kok.

Hadiah Terbaik!

Senang sekali kalau orang-orang terdekat menyukai hal-hal yang juga kita sukai. Saya beruntung berada di antara beberapa teman yang gandrung membaca. Bahkan ada satu orang teman yang suka sekali menghibahkan buku pada saya (lumayan jadi menghemat pengeluaran untuk beli buku, hehehehe). Ada juga teman yang memberi hadiah perkawinan (walaupun terlambat dua tahun, hahaha) sepaket buku.

Tumpukan buku pemberian sahabat sesama bibliophile, Judho Pratama. Sangat sukaaa!

Kado pernikahan yang tidak biasa, sepaket buku dari teman masa kuliah, Ami Dwi Nydia

Menurut saya, para pecinta buku adalah orang-orang yang paling tidak merepotkan saat ulang tahun. Tidak perlu bingung mau kasih kado apa, buku seharga tak lebih dari seratus ribu pun sudah membuat mereka senang.