Monday, June 2, 2014

At Last, Kindle!

Small, light, and very convenient

"Lo tiap hari bawa buku?"
"Iya"
"Berat-berat amat. Pakai Kindle aja"
"Hmmm, gak ah. Tetap lebih enak bawa buku. Beda sensasinya."

Sejak bertahun-tahun lalu, sesungguhnya sudah sekian banyak orang menyarankan saya beralih dari membawa buku kemana-mana jadi membawa Kindle saja. Saat itu alasan saya enggan beralih adalah karena saya memang suka sekali aroma kertas buku, baik kertas yang masih putih bersih lantaran baru, maupun kertas yang sudah menguning dan berbau apek. Rasa-rasanya menyentuh dan membolak-balik halaman buku punya sensasi beda. Mungkin hanya bibliophile yang bisa mengerti. 

Lalu, beberapa bulan lalu, saat membeli beberapa buku baru, saya mendapati rak buku yang sudah "tak sehat", seperti akan ambruk, sudah terlalu "gendut" dengan tumpukan buku. Menambah rak buku lagi pun tak mungkin, karena area kamar tidur yang tak luas. Bingunglah saya dimana menyimpan buku-buku berikutnya? Kemudian terbersitlah di benak, "Apakah ini saatnya beralih ke Kindle?".

Saya ungkapkan wacana keinginan beralih ke Kindle ini kepada seorang teman yang kebetulan pengguna Kindle. Dia pun menawarkan pada saya untuk meminjamkan Kindle-nya beberapa jam, agar saya bisa explore fitur dan merasakan sensasi memegang dan membaca dengan e-book reader keluaran Amazon ini. Bermodal beberapa jam pengalaman menggunakan Kindle, ternyata memuaskan! Tak ragulah lagi, saya putuskan untuk membeli. Maka resmilah saya menjadi pengguna Kindle, April lalu, yeay

Ternyata pada akhirnya, saya jatuh juga dalam pesona e-book dan Kindle sebagai reader device-nya. Welcome to my world, Kindle! :)  

Saturday, May 31, 2014

My "Chocolate" to Make Life Bearable

Violet from The Incredibles. She loves reading and listening to music.
Image from: www.weheartit.com
Saya selalu menyukai hari dimana saya bisa menghabiskan waktu duduk bergelut dengan selimut, ditemani buku, teh hangat, dan alunan musik favorit.

Musik dan buku adalah dua cara menikmati hidup yang paling sederhana, buat saya. Kemana pun pergi, keduanya selalu ada. Kapanpun waktu memungkinkan, momen mulai terasa membosankan, atau berada dalam perjalanan panjang, tinggal pasang earphone lalu keluarkan bekal buku bawaan, situasi pun berubah jadi menyenangkan.

Buku dan musik juga penyelamat, di kala mengalami "mati gaya". Misalnya, saat teman datang terlambat hingga kita harus menunggu berjam-jam, atau kebetulan jalanan bebas traffic jam sehingga kita sampai di tempat, satu jam lebih cepat dari waktu janjian.

Buku dan musik juga jitu menciptakan dunia portable, yang bisa saya masuki kapanpun saya merasa butuh "mengasingkan" diri dari dunia nyata, yang kadang kala membuat lelah tak tertahankan.

Sama halnya seperti buku, setiap orang pasti juga punya selera masing-masing soal musik yang mereka sukai. Sesungguhnya, saya mendengarkan hampir semua genre musik, tapi untuk menemani membaca, saya lebih memilih lagu-lagu bergenre orchestral, neoclassical, classic crossover, atau celtic. Beberapa artist atau musisi yang lagu-lagunya paling sering saya nikmati sambil membaca adalah:

Secret Garden
Andreas Volleinweider
Yiruma
Josh Groban
Katherine Jenkins
David Garret
Royal Philharmonic Orchestra
Vitamin String Quartet

Selain playlist di atas, saya juga kerap mendengarkan kompilasi musik secara streaming di www.8tracks.com. Dua kompilasi yang paling sering saya putar ulang adalah:

The Wonderful World of Cinema Part 4
Ethereal

Well, pada akhirnya setiap orang punya cara untuk membuat setiap waktu terasa seru dan setiap masa terasa berharga. There's a quote saying "chocolate makes life bearable", for me I'll replace the chocolate with books and music. 

Sunday, May 11, 2014

Dua Sisi Soekarno


Beberapa waktu lalu, di sela-sela obrolan via whatsapp antara saya dan seorang teman laki-laki, terseliplah pembicaraan tentang bagaimana Soekarno membuat cap playboy lekat bagi semua laki-laki berzodiak Gemini. Kala itu saya bilang, Soekarno adalah contoh sosok pria yang selalu butuh perempuan di sekelilingnya. Perempuan, bagi Soekarno, adalah kekuatan dan kelemahan sekaligus. Buat saya, pria dengan beban tanggung jawab yang besar, apalagi seorang pemimpin, sangat wajar membutuhkan dukungan dari perempuan, karena saya percaya perempuan punya "kekuatan" penyeimbang.

Kaitannya dengan buku yang akan saya bahas sekarang adalah, di buku "Soekarno: Kuantar Ke Gerbang" tulisan Ramadhan K.H., yang merupakan kisah istri kedua Soekarno, Inggit Garnasih, tergambar jelas dua sisi kehidupan presiden pertama Indonesia ini. Di depan publik, Soekarno adalah sosok pria dengan karisma luar biasa, karakter kuat, pemikiran tajam, seorang "singa podium" dengan suara lantang yang selalu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya berpidato. Jauh di dalam dirinya, sesungguhnya Soekarno tak berbeda dari pria pada umumnya. Ia pun punya sifat egois dan kekanak-kanakan, apalagi kalau urusannya dengan cinta dan perempuan.

Buku ini sesungguhnya adalah biografi dari Inggit Garnasih, yang kemudian ditulis dalam format novel. Itu sebabnya sejak awal, tepatnya di bagian pengantar, sudah diperingatkan bahwa akan ada dramatisasi di dalamnya. Tapi terlepas dari dramatisasi yang diberikan, fakta-fakta sejarah di dalamnya cukup bisa menambah wawasan sejarah pra proklamasi untuk kita.

Meski demikian, mungkin karena saya perempuan, kisah percintaan Inggit dan Soekarno menjadi topik yang paling saya cari dan tunggu, di setiap babnya. Pasalnya sedari awal saya memboyong buku ini dari rak toko buku ke kasir, itikad saya adalah ingin tahu sisi romantis sang proklamator, yang ternyata tak banyak juga porsinya di buku ini.

Buku ini tidak tipis, walaupun tidak tergolong tebal juga, terdiri dari kurang lebih 400 halaman. Untuk mereka yang tidak suka sejarah, buku ini dijamin membosankan. Banyak nama, tahun, kejadian, yang seringkali membuat saya harus bolak-balik halaman untuk mengaitkan satu dengan lainnya. Tapi berhubung penasaran, ya sudahlah, saya nikmati saja. Lalu terselip dimana kisah romansa Inggit dan Soekarno?

Jawabannya, di awal dan akhir novel. Di awal novel tentunya adalah kisah pertemuan Soekarno, atau pada masa itu ia dipanggil dengan nama kecilnya Koesno, dengan Inggit Garnasih, dan bagaimana cinta mereka bersemi. Di bagian akhir, jika Anda adalah pembaca perempuan, mungkin akan merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan. Menuju bab-bab akhir buku, emosi mulai terbawa. Semakin ke belakang, semakin larut, hingga akhirnya saya sempat membanting buku karena kesal. Apa pasal?

Di bab-bab inilah Soekarno tampak demikian kekanak-kanakan dan egois. Luntur sudah gambaran pria berkarisma, sang "singa podium" yang begitu dipuja. Lagi-lagi, mungkin karena saya perempuan, sehingga lebih mudah berempati dengan perasaan Inggit Garnasih yang diduakan dan disakiti. Kesetiaannya berbalas tuba, akibat usia tua dan ketidakmampuan melahirkan keturunan. Akhir kisah Inggit dan Soekarno, adalah awal kisah Soekarno dengan ibu Fatmawati, istri yang namanya populer sebagai penjahit bendera pertama Indonesia.

Meski kesal dengan sikap Soekarno yang demikian mudah main hati dengan perempuan, saya tetap tak menampik pendapat saya semula. Buat saya, pria dengan kekuasaan selalu butuh perempuan di sekelilingnya, untuk menjaganya tak limbung. Kebutuhan dikelilingi perempuan tak lantas berarti harus jadi playboy, gonta-ganti istri. Merasa lebih nyaman bekerja dengan tim yang didominasi perempuan, atau berpartner dengan kolega perempuan pun adalah wujud kebutuhan akan dukungan perempuan.

Saya bukan penggemar Bung Karno, tapi buat saya presiden pertama Indonesia ini punya banyak sisi yang menarik untuk diketahui. Sebelum membaca buku ini, saya pernah membaca buku "Bung Karno Sang Arsitek" yang berisi perjalanan karya arsitektur Soekarno, dari desain rumah tinggal, hingga aneka landmark ternama. Buku ini kemudian membawa saya menyusuri jalanan kota Bandung, untuk mencari sisa-sisa karyanya. Intinya, sosok seperti Soekarno selalu menarik untuk dibahas dan diceritakan, Anda berpendapat sama? Jika ya, buku ini layak ada di deretan buku, di rak buku Anda.


Tuesday, May 6, 2014

Bermula Dari Sebatang Rokok

Dalam imajinasi Ratih Kumala, sebatang udut alias rokok bisa jadi kisah menarik yang cukup menggelitik. Seperti biasa, saya tidak akan menukil cerita di dalam bukunya. Dalam blog post ini, saya lebih ingin bercerita mengapa buku berjudul Gadis Kretek ini menarik untuk saya.

Bukan karena cerita yang jenius atau riset pelik yang membuat buku ini menghuni rak buku saya, melainkan karena kesederhanaan bahasa. Saya tidak pernah suka dengan buku-buku yang terlalu "berbunga-bunga", njelimet, dan terlalu banyak intrik yang akhirnya malah mbundet seperti benang kusut.

Gaya Ratih bercerita sangat runut, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, setiap larik kalimat membawa kita lebih jauh ke dalam cerita. Dari sebatang rokok, Ratih membawa kita menembus waktu ke puluhan tahun yang lalu. Dari sebatang rokok pula, Ratih menyisipkan cerita Indonesia di masa kemerdekaan dulu.

Membaca buku ini membuat kita banyak tahu tentang rokok. Meskipun tidak menghisapnya bukan berarti tidak mau tahu sama sekali, dong? Karena bagaimana pun, Indonesia juga termasuk penghasil bahan baku rokok terbaik, lho. Sang penulis juga membawa kita ke sebuah penggambaran buruh linting rokok, yang ternyata hampir semuanya perempuan.

Oh iya, satu lagi yang menarik! Di dalam buku ini, kita bisa menemukan beberapa sketch packaging rokok zaman dulu. Buat yang suka barang-barang vintage, pasti suka melihatnya.

Tidak butuh waktu lama untuk saya menyelesaikan buku ini, kalau tidak salah hanya dua atau tiga hari saja. Mengingat padatnya pekerjaan, menyelesaikan buku dalam kurun waktu tak sampai seminggu adalah magic!

Singkat kata, Ratih Kumala berhasil menjadi salah satu penulis Indonesia, yang saya perhitungkan untuk diikuti karyanya. Saya suka gaya penulisannya dan saya suka karena bukunya dapat memperkaya saya.