"Eh, Nis, ada penulis Indonesia yang bikin novel psycho thriller, lho. Penasaran, deh. Baca yuk!"
Demikian kata teman saya via whatsapp. Si teman ini memang kerap jadi teman diskusi yang menyenangkan soal buku. Tidak jarang saya menjadikan pendapat-pendapatnya sebagai sumber referensi juga.
Saat mendengar dia penasaran dengan buku besutan penulis lokal yang bergenre psycho thriller, kok, ya saya tidak merasakan hal yang sama. Saya memang selalu skeptis dengan novel-novel karya penulis lokal. Bukan, bukan karena sok, tapi buat saya hanya ada segelintir penulis Indonesia yang karyanya enak dibaca.
Kebanyakan novel karya penulis Indonesia terlalu romansa, terlalu menye-menye, semacam teenlit atau chiclit, bagi sebagian orang mungkin menghibur, tapi buat saya tidak. Saya memang tidak suka novel-novel semacam itu.
Kembali kepada novel psycho thriller, akhirnya saya beli juga. Hitung-hitung untuk bahan diskusi di book club tak resmi saya dan teman saya tadi. Buku itu berjudul Katarsis, ditulis oleh Anastasia Aemilia, terbitan Gramedia.
Setelah membaca beberapa halaman saja, saya akui, penulis buku ini termasuk dalam golongan yang bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca, hanya ada beberapa typo yang menurut saya masih sangat bisa dimaklumi. Diksi dan logika kalimatnya bagus, membuat saya merasa sangat nyaman membacanya.
Bagaimana si penulis membagi per bab-nya juga bagus. Saya lebih suka buku-buku yang tiap babnya tidak terlalu panjang, cukup 2-5 halaman saja, seperti di buku ini. Pembagian bab seperti ini sangat membantu untuk orang-orang yang harus mencuri-curi waktu untuk membaca, sehingga mereka bisa menyelesaikan satu bab sebelum menutup buku dan meneruskan aktivitas mereka.
Dari segi cerita, jujur saya sempat terperangkap di bab-bab awal. Karakter dari si tokoh utama, Tara Johandi, sebagai anak perempuan yang dari masa kanak-kanaknya sudah menyimpan kekejaman dalam dirinya, dibangun dengan sangat baik. Namun, saya merasakan penurunan di pertengahan menuju akhir buku. Psikopat-psikopat lain bermunculan, menjadikan cerita utama buku ini adalah antara satu psikopat ke psikopat lainnya. Terlalu fokus pada kemunculan psikopat-psikopat ini, pada akhirnya saya tidak mendapatkan cerita background yang bisa menjelaskan mengapa para psikopat tadi bisa menjadi psikopat, traumakah, kelainan jiwa sejak lahirkah (kalau memang ada), atau apa?
Anyway, saya tetap suka dengan eksekusi buku ini, terutama teknik penulisannya. Setidaknya, saya menemukan lagi penulis Indonesia yang karyanya patut dibaca. Untuk teman-teman yang suka dengan genre psycho thriller, buku Katarsis ini worth to read, kok.
Demikian kata teman saya via whatsapp. Si teman ini memang kerap jadi teman diskusi yang menyenangkan soal buku. Tidak jarang saya menjadikan pendapat-pendapatnya sebagai sumber referensi juga.
Saat mendengar dia penasaran dengan buku besutan penulis lokal yang bergenre psycho thriller, kok, ya saya tidak merasakan hal yang sama. Saya memang selalu skeptis dengan novel-novel karya penulis lokal. Bukan, bukan karena sok, tapi buat saya hanya ada segelintir penulis Indonesia yang karyanya enak dibaca.
Kebanyakan novel karya penulis Indonesia terlalu romansa, terlalu menye-menye, semacam teenlit atau chiclit, bagi sebagian orang mungkin menghibur, tapi buat saya tidak. Saya memang tidak suka novel-novel semacam itu.Kembali kepada novel psycho thriller, akhirnya saya beli juga. Hitung-hitung untuk bahan diskusi di book club tak resmi saya dan teman saya tadi. Buku itu berjudul Katarsis, ditulis oleh Anastasia Aemilia, terbitan Gramedia.
Setelah membaca beberapa halaman saja, saya akui, penulis buku ini termasuk dalam golongan yang bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca, hanya ada beberapa typo yang menurut saya masih sangat bisa dimaklumi. Diksi dan logika kalimatnya bagus, membuat saya merasa sangat nyaman membacanya.
Bagaimana si penulis membagi per bab-nya juga bagus. Saya lebih suka buku-buku yang tiap babnya tidak terlalu panjang, cukup 2-5 halaman saja, seperti di buku ini. Pembagian bab seperti ini sangat membantu untuk orang-orang yang harus mencuri-curi waktu untuk membaca, sehingga mereka bisa menyelesaikan satu bab sebelum menutup buku dan meneruskan aktivitas mereka.
Dari segi cerita, jujur saya sempat terperangkap di bab-bab awal. Karakter dari si tokoh utama, Tara Johandi, sebagai anak perempuan yang dari masa kanak-kanaknya sudah menyimpan kekejaman dalam dirinya, dibangun dengan sangat baik. Namun, saya merasakan penurunan di pertengahan menuju akhir buku. Psikopat-psikopat lain bermunculan, menjadikan cerita utama buku ini adalah antara satu psikopat ke psikopat lainnya. Terlalu fokus pada kemunculan psikopat-psikopat ini, pada akhirnya saya tidak mendapatkan cerita background yang bisa menjelaskan mengapa para psikopat tadi bisa menjadi psikopat, traumakah, kelainan jiwa sejak lahirkah (kalau memang ada), atau apa?
Anyway, saya tetap suka dengan eksekusi buku ini, terutama teknik penulisannya. Setidaknya, saya menemukan lagi penulis Indonesia yang karyanya patut dibaca. Untuk teman-teman yang suka dengan genre psycho thriller, buku Katarsis ini worth to read, kok.
No comments:
Post a Comment